Rabi’a

Mata-mata manusia telah tertidur

Kecuali matanya yang berkilau-kilau bak kristal

Ia begitu pasti karena rindu

 

Ia yang tidurnya sedikit

Dukanya yang panjang

Badannya yang kurus

 

Sungguh..

Pesta dan bahagianya ada dalam kesendirian

Mungkin memang mesti bersendiri

 

Sampai kemudian sang pecinta bersenandung..

“Bekalku sedikit, sementara aku tidak mengetahui sampai dimana diriku.

Aku juga tidak mengetahui apakah karena bekal ini aku menangis,

atau karena jauhnya jarak dengan tujuan perjalananku?”

 

Lalu, dimana ketakutanku?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s