saiman

maaf ya saya masih ada wudhu aku menatap ponimu yang setengah basah disisir ke samping pecimu pasti bau kalo langsung dipake gitu untung aku belum sempat menyodorkan tanganku buat salaman dengan tanganmu yang sebelumnya menyelipkan selembar seratus ribu dari dompetku (dompetku!) ke balik surat-surat kami yang didapat dengan 4 (empat) kalinya itu ayahku yang malang dan calon suamiku dan calon mertuaku bolak-balik basa-basi dan kasih makan pak RT pak RW pak Lurah pak supir express pak pak siapa lagi sinih yang mau morotin biar kubuka lebar-lebar dompetku yang sisa Rp30.000 (tiga puluh ribu rupiah) dan kartu-kartu yang berutang kita tidak pernah menetapkan jumlah tapi kalau ada rejeki Rp1.000.000 (satu juta rupiah) ya biayanya kampret lah semuanya angka pada puisiku aku sebenarnya capek deh jadi anak perhitungan tapi itu bawaan orok gimana dong aku gak pelit sama bapak-bapak itu apalagi sama kamu tapi aku cuma memastikan hitungannya benar, persis, dan presisi dan apa-apa yang aku kasih ke bapak-bapak itu bikin mereka gak perlu morotin orang lain yang lebih berat ngeluarinnya daripadaku (sok malaikat!) aku takut uang-uang hilang tanpa ada yang merasa penuh dan bahagia (tapi memang selalu begitu kejadiannya).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s