tapi lo sayang sama dia?

ah kamu kelamaan…

kapan nembak aku?

aku takut aku keburu jatuh oleh senyuman lelaki lain

| tapi lo sayang sama dia? |
 

Sebelumnya aku mau bertapa dulu ke puncak dieng.

Melupakan Sigur Ros terbuang percuma

dingin-dingin enaknya berpelukan

| tapi lo sayang sama dia? |

: Zaka Sandra

ungkapan  ‘tapi lo sayang sama dia?’ adalah ungkapan khas dari Pugar Restu Julian

 

Salam

Selamat pagi
Hai pencuri
Hari ini
Jangan balik kiri
Karena diri
Tengah menata hati
Ingin memiliki
Tapi tak berani

Selamat siang
Hai bolang
Matamu nyalang
Seperti menantang
Beradu pandang
Berkedip dilarang
Jam berdentang
Sialan, kalah perang

Selamat sore
Sahut-menyahut hore
Langit jambore
Lembayung menoreh
Melirik menoleh
Menatap pun boleh
Khayalan bokeh
Meluruh meleleh

Selamat malam
Pribadi tak terselam
Mulutmu ketam
Sembunyikan gumam
Membuatku demam
Suntuk semalam
Merangkai gurindam
Demi sebuah salam

titiktitik..

Takdir itu selalu datang dengan sendirinya, tanpa kita pesan sesuai dengan keinginan kita. Bagaimana kita menyatukan takdir dengan ikhlas dan bijaksana dan kemudian di bungkus dengan senyum indah

saya selalu percaya dan meyakini bahwa takdir itu baik hati pada saya

bukan hanya saya,

akan tetapi pada sesuatu yang berbau dengan saya

yang berbau saya itu bisa kamu..

kamu bertemu saya

itu salah satu bukti bahwa takdir itu baik

kemudian setelah bertemu kita menjadi dekat, saling bicara dan bertukar rasa

takdir itu baik bukan?

setelah itu kita punya rasa saling

saling tarik menarik yang mengakibatkan pertemuan dua rasa yang serupa

bukan main baiknya takdir

sekian lama kita diberi rasa saling itu

sampailah pada satu titik yang ini

satu titik dan ruang sama yang mempertanyakan saya dan kamu

              saya dan kamu itu apa?

              apa kita itu satu?

              apa saya dan kamu masih bisa sama sama sampai kekal?

              atau hanya sampai besak lusa atau mungkin saat ini sajakah?

              apa takdir baik selalu mengiringi perjalanan saya dan kamu?

masih ada beberapa  pertanyaan ” apa ” yang ingin saya tanyakan pada takdir

tapi sayang takdir tidak bisa berbicara

jika saya bisa bernego pada takdir,  saya akan merayu dan berkata

bahwa berbaiklah selalu pada saya

nyatanya takdir itu adalah sebuah ketentuan

yang jika terjadi ya itulah adanya

ketakutan saya pada takdir itu teramat

terlihat bukan?

 

Aku Rasa…

Aku rasa putingku mulai mengeras ketika mendengar Billy Corgan berteriak “Love is Suicide!” di lagu “Bodies”.

Aku rasa penisku mulai memanjang dan membesar ketika mendengar Louise Post dan Nina Gordon mendesah di lagu “Seether”.

Aku rasa aku klimaks berulang-ulang ketika J Mascis menggerayangi leher gitarnya pada menit-menit terakhir lagu “What Else Is New?”.

Aku rasa aku sudah tertidur…………ketika kamu mulai memutar One Erection.

Angka

Asih, sejak 17 Juni juga 17 Ramadhan, aku hidup diliputi perayaan akan angka-angka

Angka yang ku sambut suka cita, namun terkadang mencemooh

Angka yang mencoba mendominasi

 

Kini..

Aku tak mau lagi tunduk pada angka

Aku tahu ia senantiasa bertambah

Tapi bukan berarti menguasai

Karena aku berada di atasnya

 

Angka-angka terurai, juga jadi pengingat

Ruang dan waktu yang tak pernah bisa ku genggam pasti

 

Detik detik aku kembali ke rahim bumi

Mungkin angka-angka tetap tak bisa..

Pecahkan teka teki penciptaan

 

Jadi siapa takut pada angka?

 

beberapa menit

30 menit, mungkin lebih, tak bisa mengejar apa yang menjadi misteri

tanda tanya besar tentang perasaanku dan semua orang di dunia ini

terselip metafora, sinyal, atau sebut saja pertanda

sebentar lagi datang bulan yang menenangkan tapi mematikan

(begitu kejam kau menciumku, 
sedang tangan ini baru saja hendak menggenggam tanganmu.
begitu mesra kau pergi, 
sedang aku baru saja mulai belajar mengenalmu)

menit-menit ini tidak pernah kuinginkan sejak semula

penjajah datang dan pergi, tapi kau selalu di hati

… luka ini terlalu dalam

| selalu ada kancing tersimpan, lonceng, sendok, kacamata, ikat pinggang, dan puluhan foto |

 

*lepas menonton The Grandmaster karya Wong Kar Wai

malam tadi tak ada lagi udara yang tersisa

malam tadi ada kenyataan membumbung di udara

tentang penyakit jantung bawaan yang tak pernah terungkap,
tentang penyakit ginjal menahun yang baru terucap,
tentang obat-obatan yang mahal dan hanya bisa dibeli dengan gaji utuh dari pengabdian berpuluh tahun,
tentang rencana pensiun paksa dan loyalitas tanpa syarat,
tentang rencana kontrak kerja dengan gaji separuh,
tentang semangat, kebanggaan semu, dan distraksi dari hidup penuh beban,

jika berpikir positif setiap detik bisa menyelamatkan manusia dari kematian, aku mungkin sudah pindah agama
bagaimana mungkin seseorang yang punya tanggungan berat bisa tetap bahagia, percaya, dan punya rencana?
bagaimana mungkin kehidupan diambil dari orang yang begitu mempercayainya?

malam tadi tak ada lagi udara yang tersisa

titiktitik..

beberapa hari ini saya tidak menemukan indahmu

tega sekali kelabu terhadapmu

dengan tamaknya dia hadir sejak fajar hingga malam tiba

dan terikmu tetap tidak terlihat

saya fikir kelabu pekat akan berbaik hati

datang saat fajar hingga siang hari

dan saya berharap sore itu ada

karena buat saya sore itu aroma

aroma senja yang tak tergantikan oleh apapun

ketakutan saya pada sore seketika mencuat

saya takut sore saya akan terus di suguhkan kelabu yang berkepanjangan

saya menjadi takut tidak bisa melihat pagi beramokan terik yang memikat

saay takut jika tak ada lagi biru dan putih yang mengihias

saya takut tidak ada lagi terik siang yang menusuk

karena saya tidakbisa tanpa jingga , berkas cahaya birunya langit dan

tentunya kamu matahari

jadi ku mohon

berbaiklah pada saya kelabu

hadirkan indah saya segera

saya tunggu baikmu