Om Mani Padme Hum

Semesta mengajarkan,

manusia menghikhlaskan.

Semesta mengijinkan,

manusia mengaminkan.

 

Semua yang buruk,

sesungguhnya hanya pelajaran.

Semua yang tak sesuai kehendak kita,

sesungguhnya hanyalah peredam ego.

 

Ketika sunyi berdetak di penghujung heningmu,

di situlah perlabuhanmu diterima oleh nirwana.

Karena nirwana bukan untuk dicari.

Namun, untuk ditemukan dalam senyap yang terkelam.

sembunyi

aku selalu memesan macchiato meski ingin cappuccino
kutambah dengan gula merah sekantong
supaya bisa tetap terjaga bersamamu
nonton chungking express tanpa subtitle dan hanya membahas
cinta yang kadaluwarsa
gerakan dan warna yang memudar dalam kesunyian
di lantai lima sudut jakarta yang diam-diam kuhias untukmu

meski mungkin aku tak akan pernah punya taman untuk berkebun organik
atau memanggang coffee cupcakes with brown sugar frosting
karena apartemen tak akan sanggup menampung
taman bunga
rumah pohon
oven besar
mesin cuci dua tabung
dan anjing golden retriever-ku yang berbadan raksasa

jauh sebelum aku harus menenteng guci isi abu lagi dan menertawakan kematian
kesesakan yang ada sudah terlalu nyata

#salahfokus

agama itu dipeluk,

bukan dimilikin.

 

yang disembah itu Tuhan,

bukan agama atau pemukanya.

 

agama itu sistem politik,

bukan sekolahan.

 

gak ada ranking-rankingan disini.

jadi gak usah pamer.

 

agama itu kaya kelamin.

situ exhibisionis?

Iman

seketika tanpa suara, kosong dan gelap

hanya hembusan angin yang menerpa lapisan terluar kulit ini

aku kalah, bukan cuma aku, kamu pun kalah

membungkam mulut yang tadinya lantang melontarkan berjuta argumen

mencari alasan-alasan tak masuk akal yang bahkan tak kita yakini

katamu, surga itu hanya milikmu

kataku, aku lah jalan kebenaran

sungguh, ini sia-sia

kita bodoh, kita tak berani

kita tak sanggup terpisah

tapi kita hanya manusia, yang seringnya lebih peduli pada apa kata manusia daripada khusyuk berdoa pada-Nya

karna syahadat kita berbeda

Titik

Jangan datang lagi

Jangan usik lagi

Cukup terhenti di titik lalu, titik kelam yang kau dan aku menikmatinya

Titik yang mulanya titik dan perlahan menjadi lingkaran dimana aku menjadi titik di dalamnya

Titik itu lebih dahsyat dari hantu

Aku sungguh tak sanggup

Ajari aku menghapus titik itu atau setidaknya bawa pergi titik itu

Ada masanya…

Apa namanya bila membuka mata pun aku tak sanggup?

Apa namanya bila satu langkah pun aku gentar?

Apa namanya bila berucap pun lidahku kelu?

Apa namanya bila setiap tarikan nafasku hanya ada gelisah?

Ada masanya raga ini terhempas yang meremukkan

Ada masanya jiwa ini kosong

Ada masanya mati adalah jawaban Continue reading

titiktitik..

siapa tanya?
Tanya saya pada kelak
Kelak itu waktu,
Waktu saya dikemudian hari

Beginikah?
Begitukah?
Atau bagaimanakah?

Kelak merupakan bagian dari takdir yang bisa kita ubah namun sudah semestinya.
Bisa saja berkehendak bila mencoba, namun nyatanya tiap kali tersadar takdir mendahului nalar yang ada.
Belum lagi kelak itu seperti telur.
Tanpa kita tahu berbau atau tidak.
Sama halnya kelak
Menuju kebaikan ataukah ketidakbruntungan
Tanpa bisa direka
Hanya bisa menuntun
Saya mencoba menuntun kelak menuju baik, namun apa daya bila merah slalu saja mengusik.
Lalu manusia itu apa
Berusaha melerai namun faktanya itu lagi lagi bagian dari takdir.
Bisa apa?