perempuan dan laki-laki laut

perempuan itu adalah laut
ia pernah sekali meninggalkan palungnya dan mencoba menggantung di garis cakrawala
supaya bisa terus menggapai dunia yang luas, pikirnya

namun udara yang ada di sekitar langit biru selalu membuatnya tercekik
lagipula untuk apa mengawang-awang di tempat yang ia tahu bukan miliknya,
di tempat di mana ia tak akan pernah menjadi dirinya sendiri?

 

laki-laki itu adalah laut
airnya tenang, meskipun dalam dan tak pernah dapat diduga
ia suka menyendiri dalam palungnya yang dalam, dingin, dan kelam
persis perempuan laut
hanya sesekali ia keluar dan berenang ke permukaan, bermain bersama paus, lumba-lumba, dan penghuni laut lainnya

meski terpisah jarak yang begitu jauh, perempuan laut tak pernah sehari pun melupakan laki-laki laut yang begitu disayanginya
terutama ketika kesesakan yang ia rasakan tak mau pergi dalam tidurnya setiap malam,
saat-saat di mana perempuan laut begitu merindukan rumahnya

meski ia berkali-kali mengabaikan panggilan dari palungnya yang dalam, dingin, dan kelam
laki-laki laut akan selalu menunggunya
dan perempuan laut akan selalu menemukan jalannya kembali ke sana

 

seperti saat ini…

tak pernah asing meski tahun-tahun sudah berganti

cinderamata perjalanan mereka yang dulu perempuan laut pernah sematkan di karang warna-warni
dan sebagian ia kubur dalam-dalam…

 

masih di sana…

 

entah sampai kapan.

Advertisements

SAJAK LAKI-LAKI

Laki-laki yang pergi

Menembus jeruji janji

Janji-janji dunia yang mati

Kering derita, tipu daya tapi

 

Tertipu laki-laki itu

Oleh mimpi-mimpi singkat waktu

Ratapi abu arang jutaan ribu

Busuk lukanya jadi ilmu

 

Laki-laki yang lukanya terbuka

Menyeret kaki di rel-rel derita

Biar kepalanya diinjak penguasa

Matanya terus tajam mengancam dewa

 

Badai mengoyak tetaplah berdiri

Ditopang sahabat, ia tantang langitnya lagi

Menolak lemah hadapi mimpinya sendiri

Sebab begitulah, jalan laki-laki sejati.

 

K M.

Ketika Mimpi Tertawa

Ketika mimpi tertawa,

menunggu jawab tanpa kata

berlariku sendiri membelah pagi

tak mau matahari tahu akan mengapa

di sanalah kudengar dunia berbisik,

“Tidurlah.”

 

Lalu mimpi tertawa lagi,

menanyakan arti sebuah janji

bagai pujaan hati kutatap erat

lidahku dipenggal takut melekat

terus kudengar orang berseru,

“Cukuplah.”

 

Namun mimpi tertawa lantang,

menuntut bentuk, bukan bayang!

benarkah aku berdiam bimbang

seperti mayat yang kaku impikan bintang?

sendiri kudengar aku menjawab,

“Pulanglah.”

 

Sentuhan malam dan pikiran mengamuk

mata kantuk digoda remang

jengah pelupuk ingin terlentang

suasana itu kian merayu

“pejamkan saja dan lihat mimpimu”, katanya

“bukankah kau selalu begitu”, katanya

mungkin benar memang seperti

namun siapa sudi melepas mimpi demi bermimpi?

 

Mimpiku bukanlah pemimpi,

biar waktu menampar raga

dan dunia meremas isi seluruh jiwa

takkan pernah sebanding sakit hati-nya

ditinggal aku yang hilang kemana

ribuan fajar ia merapuh

ribuan senja luruh menyepi

tapi mimpiku setia menolak mati

padahal aku?

aku mati sudah berkali-kali!

 

Ditatapnya aku dengan rindu,

hangat dan lembut

sinarnya putih bergelut biru

tawa mereda, sudut matanya tergenang

garis bibirnya bergerak dan berpisah

menjalin seuntai kalimat dalam nada bisu

yang lama telah kumengerti, tapi selalu kuhindari

“Kapan kamu wujudkan aku?”

katanya

dan kini,

akulah yang membisu.

 

K M.

another toast for my new-old friend.

brick and stone.

you’re a prick that made me stoned.

bouncing into an echo forest.

“Hello.. Hello.. Hello..”

nobody is there.

your blablabla and my blablabla.

mixed up. swirling. inside. my head.

jumble up yours and mine.

clothes and skin.

hair and sweat.

in an old pub.

judging people.

laughing at reality.

for a while,

we runaway from reality.

and when we got sobber.

we go home.

crowd in my head.

back and forth. back and forth. back and forth.

you. me. he. she. they. us.

strangers’ silhouette.

smokes and caffein.

horns and whistle.

colors strike my eyes.

blew and crashed.

into a silence.

threw up a rainbow mixture with your shadow.

until it is all fade away.

 

this is just another level of unconsciousness I’d love to be drowned into.

titiktitik..

beberapa malam ini hati saya menjelma menjadi sendu

kerap membuat rasa semakin menggebu

kelu hadir, lalu berubah menjadi menderu

lalu ?

apa ini rindu ?

yang pasti, hati dan rasa yang saya punya ini seketika menjadi kelabu

entah apa yang terfikir, semuanya menjadi satu

dan terciptalah sudah

hasil dari hati yang mempengaruhi rasa

pada ahirnya terjatuhlah

sudah.

 

Kota di Bawah Laut

Di dalam gemuruh ombak laut

Menampik terik surya yang mengajak bercengkrama

Di dasar buih-buih udara yang terlepas ke permukaan

‘Kutemukan kota

di dasar laut

 

Biru, ungu, hijau

Membaur hening namun menderai kecamuk kencana jiwa

Aku terhempas

Ke depan dan ke belakang

Ke kiri dan ke kanan

Namun statis

 

‘Kuperhatikan kota itu

Indah, namun tenggelam

Asri, namun sepi

 

Ada pula kota yang modern

Segalanya serba hi-tech

Namun, mati

Kehabisan listrik

Segenap populasinya sudah habis

Dimakan era

 

Ada lagi kota yang bising

Ramai manusia serakah

Banyak bangunan

Namun, tak kokoh

Rancangan gedung-gedungnya antik

Namun, angker

Tak ada yang menempati

 

Yang terakhir sebuah desa

Penduduknya sedikit

Kelaparan, namun tersenyum

Kekurangan, namun tertawa

 

Di situ aku paham

Pahami kebutuhanmu, maka kamu akan bahagia

Meski orang di sekitarmu menilai kamu sebaliknya

Namun bahagialah mereka yang hidup sepantasnya

 

Astungkara.

pada akhirnya

pada akhirnya
aku akan selalu kembali padamu
karena kamu adalah candu
yang akan membuatku selalu ketagihan
tanpa melayang-layang di udara
dan berpijak tanpa merasa terkekang

pada akhirnya
aku akan selalu kembali padamu
karena sekusut apapun benang yang sudah sembarang kusimpulkan
kamu akan selalu menguntainya kembali dengan cara paling sederhana yang pernah kulihat

pada akhirnya
aku akan selalu kembali padamu
karena menyadarkan betapa lelahnya diriku berputar-putar
di dalam labirin yang kubangun sendiri
dan bahwa aku tak butuh semua instrumen penunjang adrenalin itu

bahwa ternyata
aku sudah mencintaimu dengan sangat sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu*

*) dua bait terakhir diambil dari puisi “Aku Ingin” (Sapardi Djoko Damono)

puisi ini ditulis pada tanggal 12 Juli 2009 dengan kebahagiaan campur takut
dan ketika dibaca kembali 4 tahun kemudian kebahagiaan dan rasa takut yang timbul menjadi empat kali lipatnya