Ketika Mimpi Tertawa

Ketika mimpi tertawa,

menunggu jawab tanpa kata

berlariku sendiri membelah pagi

tak mau matahari tahu akan mengapa

di sanalah kudengar dunia berbisik,

“Tidurlah.”

 

Lalu mimpi tertawa lagi,

menanyakan arti sebuah janji

bagai pujaan hati kutatap erat

lidahku dipenggal takut melekat

terus kudengar orang berseru,

“Cukuplah.”

 

Namun mimpi tertawa lantang,

menuntut bentuk, bukan bayang!

benarkah aku berdiam bimbang

seperti mayat yang kaku impikan bintang?

sendiri kudengar aku menjawab,

“Pulanglah.”

 

Sentuhan malam dan pikiran mengamuk

mata kantuk digoda remang

jengah pelupuk ingin terlentang

suasana itu kian merayu

“pejamkan saja dan lihat mimpimu”, katanya

“bukankah kau selalu begitu”, katanya

mungkin benar memang seperti

namun siapa sudi melepas mimpi demi bermimpi?

 

Mimpiku bukanlah pemimpi,

biar waktu menampar raga

dan dunia meremas isi seluruh jiwa

takkan pernah sebanding sakit hati-nya

ditinggal aku yang hilang kemana

ribuan fajar ia merapuh

ribuan senja luruh menyepi

tapi mimpiku setia menolak mati

padahal aku?

aku mati sudah berkali-kali!

 

Ditatapnya aku dengan rindu,

hangat dan lembut

sinarnya putih bergelut biru

tawa mereda, sudut matanya tergenang

garis bibirnya bergerak dan berpisah

menjalin seuntai kalimat dalam nada bisu

yang lama telah kumengerti, tapi selalu kuhindari

“Kapan kamu wujudkan aku?”

katanya

dan kini,

akulah yang membisu.

 

K M.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s