lirik bus kota

terduduk mencari lirik magis menetes neraka

di kepala

mengucur, besarang bus kota

Advertisements

lalu kemudian setelah itu

kamu pikir aku benar-benar terjatuh.

memang aku sedikit merasa bersalah, namun tidak sebesar yang kau bayangkan.

karena memang sudah biasa,

sangat terbiasa.

 

sampai tiba di mana orang-orang ribut menyebutnya titik 0.

atau mungkin wanita-wanita berlipstik merah menyebutnya, “drop shayyy

kemudian aku berpaling, seolah tak pernah terjadi apa.

 

kamu pun mulai berasumsi aku ini jalang.

namun, ah, sayang..

memangnya kamu belum pernah mengencani penulis sebelumnya?

Selalu separuh

Wajah-wajah terdekatmu adalah manusia-manusia separuh yang paling kau takuti

Ketakutanmu berjalan bersamaan dengan kemarahanmu terhadap manusia-manusia separuh itu

Kebertubuhanmu yang utuh perlahan terkikis..

Engkau muak, engkau yang utuh kenapa harus terhimpit dengan yang separuh

Para manusia separuh itu pun tak bisa saling melengkapi, paling tidak separuh dan separuh akan menjadi utuh

Begitu saja pun mereka tak paham

 

Hei..ada satu separuh berjalan pincang ke arah mu

Stop.

 

Si separuh yang sadar kemudian menuliskan mimpinya, untuk menjadi utuh dan bebas…entah bebas dari apa? Dari siapa?

Lalu, pecah lagi dari separuh.

 

Separuh itu tertulis,

Aku hanya perlu hati yang luas

 

 

payung

aku bisa menjadi payung bungabunga untukmu
ketika hujan terlalu deras dan membasahi matamu
akan kuseka diamdiam
karena kenyataan mungkin hanya akan membebanimu lagi
aku bisa menjadi tokoh dalam buku dongeng kita selamanya
supaya percakapanpercakapan eskrim, stik keju kering, dan susu cokelat yang pernah kita punya abadi
aku bisa selalu jadi malaikatyanglucudanmenyenangkan untukmu
jika itu saja sudah cukup
aku bisa membiarkanmu pergi dan mencari ketenangan dalam hidup
karena sekarang kamu akhirnya mengerti apa artinya

dan hanya padamu
aku bisa cukup kuat
mencintai
tanpa pamrih
dan menunggu
meski mungkin kamu tak akan lagi kembali

Ya begitulah

Berbalut kaos usang dengan sablonan wajah Thom Yorke, aku menunggu tersadar

Menikmati menit demi menitnya, ketenggelaman ini membuatku lega

Dengan rambut berbau asap rokok dan poniku yang sudah lepek sejak siang tadi

Aku berandai,

 

Sampai kapan?

 

Toh aku akan belajar dari kesalahanku, jika memang salah

Karena sejauh ini ‘kulihat aku tumbuh menjadi pengecut saja

Hanya berani bodoh saat tak sadar

 

Lalu hening saat ‘kupandangi lalu lintas Jakarta yang padat warna

Dari lantai 9 gedung ini

‘Kuayunkan tanganku dan memasukkan warna-warni dan hingar bingar kota ini hingga mengalir

Menyisip di sela-sela jemariku yang tidak terlalu panjang dan lentik

 

Sejenak Jakarta ada di dalam genggamanku

 

Atau demikian khayalku saat itu

Membawaku melihat kota ini dari sudut pandang penembak jarak jauh

Namun, tidak ‘kubawa serta senapanku, karena memang tak punya

Tapi tak jadi masalah

 

Karena di sini memang tidak akan ada yang abadi

Kecuali ketertarikanku menulis walau tak mahir dalam membuat judul

seusai pesta

kita pulang mengurai konde lalu menyapu rambutku yang bergumpal-gumpal. kini suamiku bisa tidur bersebelahan denganku. di pagi hari kita makan sisa makanan katering semalam di ruang tamu tanpa meja. ibu tidak berhenti berkicau tentang pesta dan kawan2nya yang penuh pujian. citra begitu penting untuk menjaga relasi. cincinku berkilau merah muda, ia mengganjal jari-jariku di tempat yang janggal. sebentar lagi aku akan merasa telanjang tanpanya. sebentar lagi ibu akan terlalu sibuk untuk menunggu kami pulang ke rumahnya. sebentar lagi ayah juga punya agenda sendiri bertemu teman-teman lama di citos atau cipete raya. teman-temannya sebelum bertemu ibu. dan di ruang makan tanpa meja makan itu, aku merasa semua kenangan akan digerus waktu dan yang tersisa di kepala hanya kabut abu-abu dan sedikit sensasi aneh yang tidak kita pahami lagi.

tentang

you are an opened book, and I love your stories

the way you sing your life to me

in such a sweet disposition melody

walau cinta mungkin hanya ilusi belaka

dan doktrin kata-kata manis berbalut sengatan listrik atas nama emotional euphoria

tapi, ah, ya sudahlah

nikmati saja tanpa berusaha meneorikannya