yang tidak boleh disebutkan namanya

aku menunggumu datang, luka dan suka yang datang bersisian. sambil menahan tangis dan melihat sepasang mata yang menganga. menelan ketakutan dan membiarkannya merayap perlahan di tenggorokan. retak berbaris di dinding. kalau saja aku bisa membagikan dunia kepadamu dalam kantong plastik hitam kecil.

kalau saja aku bisa memanggilmu sekarang.

Advertisements

tomat

masih ada butiran pasir menempel di sol sepatu
kita menelan air laut
memenuhi hatiku sampai sesak
jangan sampai meledak
nanti membanjiri taman kupukupu di perut

air terjun di pemandian air panas
berubah menjadi wahana niagara
katakata terjun bebas
memenuhi mangkuk-mangkuk orang lain
dunia terhubung
todos estamos conectados

mungkin kita hanya butuh diri kita sendiri dan merasa aman dalam kebersamaan yang fana
semua cepat berlalu
boleh kupetik tomat merah yang merekah di matamu?

Gemuruh

Berjalan melewati halte demi halte, didampingi metro mini yang hampir sama sekali tidak layak beroprasi.
Angin sepoy membuat under estimate, apasih ? Kenapa harus dia ?
Muka tebel bercampur dengan ampas debu asep kopaja.
Bertujuan satu berkeyakinan seribu.

si perasa

aku tidak mendamba

seberapa jauh kau pergi?

aku akan tetap bergeming mensejajarkan arah hatiku tak padamu

bukan karena aku tak mencinta

karena aku lebih suka tidak bersamamu

kejernihan semua ini seperti bukan mata airmu

aku menciptakan sumurku sendiri

tanpa kau aku akan tetap berdiri lebih sejajar dari arah mata angin sekalipun

kita tak sama itu sebabnya aku tak memilih

aku hanya si perasa yang biasa saja.

defensif.

kamu berikan kejutan.

satu demi satu.

di ujung jalan, bersender anak jalanan.

pengamen kecil menghirup aibon.

“ini Tuhanku, mana Tuhanmu?”, tantangnya.

lalu, kenapa jika tuhanku tak terlihat?

jika abstrak seperti lukisan yang tak pernah terlukis?

hanya garis-garis sendu di dalam kepala,

yang terlupakan sebelum sempat dilahirkan.

di atas kanvas.

aku menari.

tanpa lagu.

karena memang demikianlah seharusnya.