defensif.

kamu berikan kejutan.

satu demi satu.

di ujung jalan, bersender anak jalanan.

pengamen kecil menghirup aibon.

“ini Tuhanku, mana Tuhanmu?”, tantangnya.

lalu, kenapa jika tuhanku tak terlihat?

jika abstrak seperti lukisan yang tak pernah terlukis?

hanya garis-garis sendu di dalam kepala,

yang terlupakan sebelum sempat dilahirkan.

di atas kanvas.

aku menari.

tanpa lagu.

karena memang demikianlah seharusnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s