yang tak seratus persen

angin yang berhembus kencang malam itu membuat rambutmu yang hitam pekat menari-nari.
mereka menari-nari di atas bayang-bayang tubuhmu yang semakin malam semakin kelam.
berbeda ketika mentari menyapa, saat semakin lama semakin siang, semakin panjang bayangmu memanjang.

ada satu dua titik embun yang menitik juga di balik kacamatamu.
udara begitu tipis disana, setipis gelombang-gelombang cahaya yang dapat diserap mata.
sementara dia di ujung sana, di tempat dimana ia berada, sedang memikirkanmu.
lalu dalam hati ia bertanya:

“apakah kau mencintaiku, seperti aku mencintaimu?”

lalu.
titik-titik dalam kacamatamu bertambah, tak hanya satu atau dua.
kamu terlalu sibuk menyeka-nyeka air pada matamu, sambil membenarkan lagi letak kacamatamu.
bergumam kau, seperti suaramu yang ditelan malam.

“aku takut aku tidak bisa mencintaimu seperti kau mencintaiku”

***

yang punya airmata tentu saja bukan kamu.
airmata takutmu berpadu dengan airmata kecewanya.

tentu itu bukan jawaban yang sangat diinginkannya.
lebih baik ia dengar kata-kata bohong yang terkesan bijaksana daripada harus mendengar ketakutanmu yang penuh ragu tapi sangat jujur terasa.

***

“mengapa?”

kalimat tanya itu menjadi familiar kaudengar.
tak hanya sekali dua kali, tapi dia bertanya padamu dengan pilihan kata tanya yang serupa.
hampir disetiap pertemuan kalian yang terencana dan yang tak terencana.
seperti meminta penjelasan yang sangat argumentatif sebagai pertanggungjawaban atas keraguanmu atas cintamu sendiri padanya.

***

“aku tak bisa mencintaimu sepenuh hatiku, seratus persen”

tentu adakalanya dia bukanlah satu-satunya manusia yang menjadi perihal utama dalam hidupmu.
Dan kamu menjelaskan sangat perlahan.
seperti menelan nasi dengan tiga-puluh-tiga-kali kunyahan.
sangat perlahan. sampai halus sampai pada usus.

“aku bahkan mustahil mencintaimu seratus persen”

kamu menambahkan dengan suaramu yang makin perlahan.
makin pelan. sampai akhirnya diam.
suasana hening dan semua diam.
angin kembali berembus kencang dan rambutmu juga kembali menari-nari diatas titik-titik air yang jatuh diantara hidung dan lengkungan mata:
matamu dan mataku.

***

“mengapa?”

lagi-lagi,
mungkin penjelasanku kurang masuk akal.
atau saja masuk akal namun terasa tak masuk akal?

***

“…
kamu mungkin mencintaiku dengan perasaan yang begitu besar.
melebihi cintamu terhadap sesuatu apa pun di dunia ini.
melebihi besarnya bentuk dunia yang menjadi beban Atlas yang memanggulnya.
melebihi yang lain.

aku mungkin juga bisa berbuat yang sama dengan apa yang kamu lakukan.
bisa melebihi apapun dalam cintaku padamu.
tapi aku takut jika aku tak secinta seperti kau mencintaiku.
tapi aku yakin, cinta yang kurasa padamu ini, sangat besar untuk dapat diperjuangkan dan dipertahankan.

lalu untuk apa pertanyaan seperti itu kau ajukan padaku sementara aku atau kau sendiri pun tak bisa mengukur besarnya cinta kita terhadap seseorang?
aku mengukur berdasarkan keyakinan.
dan keyakinan itu tak bisa diukur secara empirik.
lalu, cinta itu pada akhirnya mustahil untuk diukur.
apalagi untuk membandingkan cintamu dan cintaku.
lebih-lebih untuk di persentasikan seperti itu..

yang harus kamu tau,
aku yakin kamu layak untuk diperjuangkan dan dipertahankan.
itu cukup menjawab.
tak perlu kau risaukan seberapa besarnya cinta yang kumiliki itu untukmu.

karena seperti yang kukatakan,
jika cinta itu bisa diukur dan aku bagi-bagi porsinya,
kamu tentu tak akan dapat jatah seratus persen.
…”

***

kalian menerawang dalam gelap pekat seperti membiarkan malam semakin kelam sehingga pagi cepat datang.

***

Advertisements

tentang perasaanku tanpamu

jejak yang tertanam dalam pasir semakin lama semakin terkubur bersama tiupan angin barat. sementara angin tak mampu membawa pesan rinduku padamu. jarak yang terbentang diantara kita sepanjang biru kelam samudera, biru langit angkasa, hijau pohon di bebukitan hingga putih salju yang membeku. sementara aku disini dan engkau disana dalam siang yang panjang dan malam yang berisik debur ombak: aku merindukanmu.

sementara aku hanya bisa mengingat-ingat kata-kata yang pernah kau ucapkan, surat yang pernah kau tuliskan, tatapan yang pernah kau berikan, pelukan yang pernah kau balutkan pada tubuh yang dingin ini. aku setengah rapuh tanpamu.

setengahnya lagi mencoba bertahan.

sekuat kaki ini mencoba berlari, tetapi hati ini menuntunnya kembali.*

mengingat pertemuan Billy dan Sally

sore itu,
kita bincang-bincang sederhana.
dengan rupa yang tak terduga.
sama-sama berbicara dengan nyali yang tersisa.

sore itu,
ada tembok-tembok yang bertelinga.
mendengarkan cerita yang sederhana.
diantara kaki-kaki yang enggan beranjak.

tetap di sana.
di depan mata.

tetap di situ.
jangan pergi dulu.

***

ada hari-hari dimana hujan kadang indah kadang tidak.
ada hari-hari dimana mendung kadang terlihat cerah.
ada hari-hari dimana cerah kadang menawarkan raut wajah tak bersahabat.

***

aku masih bicara tentang sore itu.
diantara titik-titik air yang enggan jatuh dari ujung payung.
seolah mau mengintip dua rupa yang salah tingkah.
rupa yang malu-malu merona merah.
di tengah empat kaki yang sama-sama enggan beranjak.

***

mereka-reka lagi kejadian yang tersisa.
memori dibalik tenaga yang sudah dua-puluh-tiga-tahun berdaya.
senyum mengembang diantara pori-pori menganga.
🙂 begitu katanya.