budaya

maaf.

terima kasih.

 

diulang terus.

sampai hilang makna.

sampai jadi biasa saja.

Advertisements

defensif.

kamu berikan kejutan.

satu demi satu.

di ujung jalan, bersender anak jalanan.

pengamen kecil menghirup aibon.

“ini Tuhanku, mana Tuhanmu?”, tantangnya.

lalu, kenapa jika tuhanku tak terlihat?

jika abstrak seperti lukisan yang tak pernah terlukis?

hanya garis-garis sendu di dalam kepala,

yang terlupakan sebelum sempat dilahirkan.

di atas kanvas.

aku menari.

tanpa lagu.

karena memang demikianlah seharusnya.

gumam

menganalisa tanpa teori

kesimpulan yang merupakan persepsi individualistis

menstereotipkan orang yang tak menerima idealismemu

memandang sebelah mata tanpa terjun langsung ke dalam suatu situasi

menghakimi

dikahimi

mengumpat

ditusuk dari belakang

hingga kamu sakit

murka

hancur

 

kamu memang hanya manusia

namun, semua hal itu hanyalah satu dari sekian banyak emosi

 

love yourself today

you’re the only one who knows how to do it best

lalu kemudian setelah itu

kamu pikir aku benar-benar terjatuh.

memang aku sedikit merasa bersalah, namun tidak sebesar yang kau bayangkan.

karena memang sudah biasa,

sangat terbiasa.

 

sampai tiba di mana orang-orang ribut menyebutnya titik 0.

atau mungkin wanita-wanita berlipstik merah menyebutnya, “drop shayyy

kemudian aku berpaling, seolah tak pernah terjadi apa.

 

kamu pun mulai berasumsi aku ini jalang.

namun, ah, sayang..

memangnya kamu belum pernah mengencani penulis sebelumnya?

Ya begitulah

Berbalut kaos usang dengan sablonan wajah Thom Yorke, aku menunggu tersadar

Menikmati menit demi menitnya, ketenggelaman ini membuatku lega

Dengan rambut berbau asap rokok dan poniku yang sudah lepek sejak siang tadi

Aku berandai,

 

Sampai kapan?

 

Toh aku akan belajar dari kesalahanku, jika memang salah

Karena sejauh ini ‘kulihat aku tumbuh menjadi pengecut saja

Hanya berani bodoh saat tak sadar

 

Lalu hening saat ‘kupandangi lalu lintas Jakarta yang padat warna

Dari lantai 9 gedung ini

‘Kuayunkan tanganku dan memasukkan warna-warni dan hingar bingar kota ini hingga mengalir

Menyisip di sela-sela jemariku yang tidak terlalu panjang dan lentik

 

Sejenak Jakarta ada di dalam genggamanku

 

Atau demikian khayalku saat itu

Membawaku melihat kota ini dari sudut pandang penembak jarak jauh

Namun, tidak ‘kubawa serta senapanku, karena memang tak punya

Tapi tak jadi masalah

 

Karena di sini memang tidak akan ada yang abadi

Kecuali ketertarikanku menulis walau tak mahir dalam membuat judul

tentang

you are an opened book, and I love your stories

the way you sing your life to me

in such a sweet disposition melody

walau cinta mungkin hanya ilusi belaka

dan doktrin kata-kata manis berbalut sengatan listrik atas nama emotional euphoria

tapi, ah, ya sudahlah

nikmati saja tanpa berusaha meneorikannya

another toast for my new-old friend.

brick and stone.

you’re a prick that made me stoned.

bouncing into an echo forest.

“Hello.. Hello.. Hello..”

nobody is there.

your blablabla and my blablabla.

mixed up. swirling. inside. my head.

jumble up yours and mine.

clothes and skin.

hair and sweat.

in an old pub.

judging people.

laughing at reality.

for a while,

we runaway from reality.

and when we got sobber.

we go home.

crowd in my head.

back and forth. back and forth. back and forth.

you. me. he. she. they. us.

strangers’ silhouette.

smokes and caffein.

horns and whistle.

colors strike my eyes.

blew and crashed.

into a silence.

threw up a rainbow mixture with your shadow.

until it is all fade away.

 

this is just another level of unconsciousness I’d love to be drowned into.