Kota di Bawah Laut

Di dalam gemuruh ombak laut

Menampik terik surya yang mengajak bercengkrama

Di dasar buih-buih udara yang terlepas ke permukaan

‘Kutemukan kota

di dasar laut

 

Biru, ungu, hijau

Membaur hening namun menderai kecamuk kencana jiwa

Aku terhempas

Ke depan dan ke belakang

Ke kiri dan ke kanan

Namun statis

 

‘Kuperhatikan kota itu

Indah, namun tenggelam

Asri, namun sepi

 

Ada pula kota yang modern

Segalanya serba hi-tech

Namun, mati

Kehabisan listrik

Segenap populasinya sudah habis

Dimakan era

 

Ada lagi kota yang bising

Ramai manusia serakah

Banyak bangunan

Namun, tak kokoh

Rancangan gedung-gedungnya antik

Namun, angker

Tak ada yang menempati

 

Yang terakhir sebuah desa

Penduduknya sedikit

Kelaparan, namun tersenyum

Kekurangan, namun tertawa

 

Di situ aku paham

Pahami kebutuhanmu, maka kamu akan bahagia

Meski orang di sekitarmu menilai kamu sebaliknya

Namun bahagialah mereka yang hidup sepantasnya

 

Astungkara.

Advertisements

Om Mani Padme Hum

Semesta mengajarkan,

manusia menghikhlaskan.

Semesta mengijinkan,

manusia mengaminkan.

 

Semua yang buruk,

sesungguhnya hanya pelajaran.

Semua yang tak sesuai kehendak kita,

sesungguhnya hanyalah peredam ego.

 

Ketika sunyi berdetak di penghujung heningmu,

di situlah perlabuhanmu diterima oleh nirwana.

Karena nirwana bukan untuk dicari.

Namun, untuk ditemukan dalam senyap yang terkelam.

#salahfokus

agama itu dipeluk,

bukan dimilikin.

 

yang disembah itu Tuhan,

bukan agama atau pemukanya.

 

agama itu sistem politik,

bukan sekolahan.

 

gak ada ranking-rankingan disini.

jadi gak usah pamer.

 

agama itu kaya kelamin.

situ exhibisionis?

sekali lagi

luluh lantah

aku terjerembab

lagi, lagi dan sekali lagi

mengandap tajam kau merasuk

kalbuku

 

menggema pelan, masih terasa

membesit kilat, psychedelic siluetmu

lagi, lagi dan sekali lagi

 

membuatku teringat sepenggal puisi

di tempat aku dan kamu pernah berbagi mimpi

“yang pernah singgah di hati, tak akan pernah benar-benar pergi”

limit

sejenak tertegun melihat layar laptopku

fotomu masih disana, tersenyum di sampingku

dengan mata turun karena kita sedikit tipsy

but now seeing it, my heart aching like a shit

 

I used to be proud of every step you take

some people said that I love you like a real baby

cuz everywhere I go, I tell people about yourself

and proudly say to them, “Yes, that’s my fokkin boy

 

but now, it’s all ended we crashed back to zero

now every song I heard, they sound so fokkin mellow

been days I woke up with my eyes got swollen

trying hard to think how to live without my baby

 

I’m scared enough to see you with another shorty

yet too coward to keep on holding your hand

people telling me it’s true when it hurts

but middle finger in the air ja fok julle naaiers

buried burdens

awalnya hitam, gelap

dan mulai terdengar teriak ketakutan dan tangis sesengguk wanita

bersimpuh ia dibalut kain dan rambut panjangnya yang mengacak pandangan

kemudian gelap lagi karena gagak-gagak menghalangi cahaya itu

kutunggu dalam kalutku hingga jelas

sambil berharap semoga aku tak tercakar

sampai tiba di mulut goa

yang menggemakan seruan-seruan tak pantas

semua

amarah

ketakutan

kesedihan

mengaduk

perutku

renyuh

redam

aku

terlarut

takut

aku menyentuh mulut goa dan bersimpuh lumpuh

hingga tersadar ternyata berada di tepi sungai

melihat aku yang bukan aku di air

di samping rumah jamur ibu kurcaci melepas anaknya merantau

lalu semua berangsur menjadi blur

perlahan semua warna mencokelatkan dirinya

kupikir, apalah ini psychedelic silent hill

hingga tersadar wajah si ego menghajar wajahku dengan murkanya

“apa? apa? apa?”, tanyaku pada si ego

tatapan bengisnya mencabik aku

meretakku dari kepala hingga ujung kaki hingga seserpih terpental hilang

lalu ia pergi, dan aku tersadar

have you ever really try to love yourself?