Malu Aku Malu.

Baru saja kemarin kamu bilang senyuman dan wangi tubuhku buat rindu. Baru juga kemarin kamu bilang, “makasih sayang…”. Dan kamu selalu bilang andai malam itu terus terulang di malam-malam berikutnya.

 

Jangan bilang ibu kalau aku malu-malu, tahunya ia aku pergi menonton sendra tari.

Kepikiran.

Kemarin bilangnya hari ini, hari ini bilangnya besok. Besok, mau bilang hal sama? Kejar-kejaran cinta, kayak diteror debt collector. Kepikiran, jangan-jangan kutang yang kamu belikan boleh hutang. Kadung jadi bintang utama malam itu, maunya biar saja tetap menggebu. Ah! Syahdu. Lupakan..

 

Begini Saja.

Bulan penuh sempurna. Malam masih gelap dan dingin.
Terang itu, ada di bola mata aku, dan kamu.

Jangkrik-burung gereja-kodok lagi pada nyanyi apa sih? Desis angin dan gemericik air kolam juga ikan-ikan terdengar bermain di satu lagu.
Dua lagu, tiga, empat, sampai satu album “Rhythm of Love“, kira-kira.

Di atas putih, dengan double shot Irish cream sebelum lewat mata kata-kata bersenggama.
Dalam peluk aku takut. Takut cinta ini jatuh ke lantai dansa.

Begini saja, biar aku menutup mata dan nikmati.