Urat Jakarta

bus mengucur deras
lama tertahan urat Jakarta
tak ada waktu yang tepat untuk mengucapkan selamat tinggal
tidak juga untuk kota ini…

ada kisah gelisah tentang cari uang yang susah
setiap pagi adalah waktu untuk berspekulasi

sebenarnya aku ingin membiarkan celanaku terbuka
ketika keluar dari toilet umum
selepas kencing

obrolan tentang orang yang bisa bicara sama Tuhan
ada pegangan menggantung di malam

aku takut pesta ini usai

jangan hentikan musik, jangan kosongkan cawan anggurmu,

jangan biarkan orang-orang pergi pulang, jangan pula matikan lampu,

aku tak ingin termangu menanti bola disko bersinar lagi

sementara sapu-sapu bersihkan bulu-bulu lagu kota setengah techno

udara subuh adalah tobat yang pecah berantakan bersama beling-beling You C 1000

aku sekarang mau bubur ayam delivery

 

 

langit tua

seperti bulan termakan kemarahan yang tak jua reda

meniup sangkakala bersuara anggur

berharap jam pasir waktu pulang jadi solusi

aku adalah mesin uang

menutup telinga yang terlalu pekat

mata yang terlalu rabun

mulut yang terlalu bau

*So, here’s your life

We’ll find our way

We’re sailing blind

But it’s certain, nothing’s certain…

 
 
 
*Life of Riley-Lightning Seeds

tapi lo sayang sama dia?

ah kamu kelamaan…

kapan nembak aku?

aku takut aku keburu jatuh oleh senyuman lelaki lain

| tapi lo sayang sama dia? |
 

Sebelumnya aku mau bertapa dulu ke puncak dieng.

Melupakan Sigur Ros terbuang percuma

dingin-dingin enaknya berpelukan

| tapi lo sayang sama dia? |

: Zaka Sandra

ungkapan  ‘tapi lo sayang sama dia?’ adalah ungkapan khas dari Pugar Restu Julian

 

beberapa menit

30 menit, mungkin lebih, tak bisa mengejar apa yang menjadi misteri

tanda tanya besar tentang perasaanku dan semua orang di dunia ini

terselip metafora, sinyal, atau sebut saja pertanda

sebentar lagi datang bulan yang menenangkan tapi mematikan

(begitu kejam kau menciumku, 
sedang tangan ini baru saja hendak menggenggam tanganmu.
begitu mesra kau pergi, 
sedang aku baru saja mulai belajar mengenalmu)

menit-menit ini tidak pernah kuinginkan sejak semula

penjajah datang dan pergi, tapi kau selalu di hati

… luka ini terlalu dalam

| selalu ada kancing tersimpan, lonceng, sendok, kacamata, ikat pinggang, dan puluhan foto |

 

*lepas menonton The Grandmaster karya Wong Kar Wai

pompa jakarta

kubawa pompa warna persik

bosan aku dengan Jakarta yang digembosi dengan keluhan

apalagi kumbang-kumbang orientalis penderitaan, selalu merasa dirinya benar

tanpa pernah melihat pantatnya basah olesan madu

(apakah kau pernah melihat tukang becak menyuntik subuxon di pulau Galang?)

kupompa Jakarta, karena langitnya sudah sayu berlebihan

lalu beranjak ke pelaminan

 

 

*frase orientalis penderitaan diambil dari obrolan bersama Mikael Johani, yang dia kutip dari Anya Rompas

kulapangkan hati dari cache yang mengarat

kaktus yang lari seratus*

di selatan pancoran

ada puluhan juta di rekening ketika kukosongkan almari dari sampah

tidak ada Aigner, Gucci, atau Prada

(yang aku tau aku sekarang tunawisma)

cemara yang ceria

di selatan sentul

aku takut aku tak bisa lagi merasa takut

kulapangkan hati dari cache yang mengarat

 

*dari lagu-lagu the sastro