Rencana

Tangan-tangan basah yang menggenggam penuh resah

Pisau yang selalu ku asah
Kini menusukku

Kakiku terseret melangkah
Langit di atas masih tertawa

Bumi yang ku injak, masih bertanya tentang surga

Apa kau tau suatu rencana
Yang datangnya dari sangkakala
Apa kau tau suatu kehendak
Yang datangnya pun aku tak tau

Maafku

Kawan.
Jika kau rasa angin tak lagi kencang untuk menaikkan layang-layang mu.
Jangan kau cerca aku.
Telah kusiul berulang-ulang namun angin tak jua datang.
Kawan.
Jika kau anggap parfum tak lagi wangi untuk mengharumi ruangan ini.
Jangan kau tuding aku.
Sudah ku semprot berkali kali namun wangi tak juga tiba.

Tapi, jika kau rasa layangmu tinggi di angkasa.
Jika kau anggap ruangan ini harum.
Jangan kau puji aku.
Maafkan aku kawan.
Semoga angin dan wangi mampu menyampaikan maaf ku.

Gemuruh

Berjalan melewati halte demi halte, didampingi metro mini yang hampir sama sekali tidak layak beroprasi.
Angin sepoy membuat under estimate, apasih ? Kenapa harus dia ?
Muka tebel bercampur dengan ampas debu asep kopaja.
Bertujuan satu berkeyakinan seribu.

Ketakutan Terbesar

Ada berapa ratus puluh juta kosa kata di kamus bahasa Indonesia ?
Siapa sangka ?
Kalau kita akan berkata sama ?

Bukan karena keinginan, tapi keharusan.

Salah siapa kita terlahir sebagai laki-laki ?
Salah siapa kita terlahir sebagai perempuan ?
Salah siapa kita terlahir jelek ?
Salah siapa kita terlahir miskin ?

Semua itu nggak perlu ditakutin, karena harga diri lebih penting daripada harta diri.

Tapi, aku salut sama perempuan, karena jarang dari perempuan yang takut akan hal itu.
Karena kebanyakan perempuan itu, ketakutan terbesarnya adalah gemuk.

Gelap

Malem ini terasa seperti malem yang seharusnya.
Pulang ke rumah atau kost dan bergegas mengunci pintu. Ganti pakaian, cuci muka cuci kaki tangan, gosok gigi lalu keatas ranjang. Main hp, stalking, dan update status sudah jadi kebiasaan.
Tapi ada yang berbeda malem ini, ternyata listrik padam.

Seperti biasa, membakar rokok menjadi hal yang monoton.
Tapi, dia bisa menjadi temen dalam keadaan apapun. Salut.
Kemudian, tetep saja habis termakan waktu. Tetep saja butuh biaya agar tetep bisa tersentuh.

Lalu, apa yang tak lekang oleh waktu ?

Masalahnya bukan itu, tapi apa yang ada disaat gelap ? Bayanganpun hilang ditelan kegelapan.

Klise

Seperti matahari yang selalu terbit di pagi hari
Tapi tidak selalu bersinar
Seperti bulan yang selalu setia menggantikan matahari
Tapi tidak selalu menerangi.

Kelak
Kita akan samasama tau seberapa besar porsi rasa  itu
Mengapa kita hanya saling diam dan memperhatikan dalam diam ?

Membiarkan air mata jatuh sembunyi sembunyi dan mengering dengan sendirinya

Lalu, kemana kita akan berlabuh ?

Suatu hari, kita pergi saling meninggalkan dengan alasan yang sama.

Tak lagi sama

Seratus tujuh puluh tiga poin indikator kebahagiaan pegawai disurvei kuantitatifmu. (lolipopsuper)

Kemana malam yang selalu memberi kedamaian ?
Mengapa tak pernah lagi ku rasakan ? Hilang ?
4 piring tertata rapi di meja makan, tidak lupa sendok garpu dan hidangan, terdengar celoteh yang bersaut – sautan. Tak pikir panjang aku menghabiskan makanan. Seperti biasa, menutup telinga menjadi pilihan, bukan angkuh atau acuh, tapi bosan !
Sebenernya, banyak pilihan yang aku lewatkan, tapi apa daya, krisis kepercayaan membuat kebosanan.
Mungkin aku akan tersadar ketika semua itu sudah tiada, mungkin aku akan tersadar ketika semua itu tinggal cerita.
Menyesal ? Itu tak bisa di pungkiri !
Kekuatan mental sedang teruji.
Sekarang hanya ada dua pilihan, maju dengan segala sesuatu yang kita tidak pernah tau, baik atau buruk.
Mundur, menyerah dengan sejuta kemungkinan yang tak akan pernah terulang.

Lalu, aku yang mana ?
Jawabannya kembali pada hati.

Diam

Ketika aku berjalan, aku tidak sengaja bertemu dengan hujan
Aku menepi diam dengan pandangan kosong
‘aku mau belajar dari hujan, yang sering datang disaat tak diinginkan, tapi sebenernya dibutuhkan. Tetap setia membasahi bumi, meski di maki – maki’

Lelah

Lelah, iya lelah raga ini menghadapi fiksi
Setiap hari di sajikan agitasi
Berfikir kritis berharap bisa teratasi
Lelah, membuat siapapun menjadi frustasi

Lelah bersekutu dengan imajinasi
Selalu merasa bahwa hidup abadi
Lelah merunduk menghindari agitasi
Jiwa pemberontak yang akan menghiasi

Lelah, tak pernah tersirat jika yang ada hanya pemberontakan
Yang ada hanya senyuman atau tangisan
Senyuman membawa petaka dan tangisan membawa duka
Cukup adil buat ‘mereka’

Lalu, dimanakah letak keadilan ?
Jawabannya ada di dalam hati