SAJAK LAKI-LAKI

Laki-laki yang pergi

Menembus jeruji janji

Janji-janji dunia yang mati

Kering derita, tipu daya tapi

 

Tertipu laki-laki itu

Oleh mimpi-mimpi singkat waktu

Ratapi abu arang jutaan ribu

Busuk lukanya jadi ilmu

 

Laki-laki yang lukanya terbuka

Menyeret kaki di rel-rel derita

Biar kepalanya diinjak penguasa

Matanya terus tajam mengancam dewa

 

Badai mengoyak tetaplah berdiri

Ditopang sahabat, ia tantang langitnya lagi

Menolak lemah hadapi mimpinya sendiri

Sebab begitulah, jalan laki-laki sejati.

 

K M.

Advertisements

Ketika Mimpi Tertawa

Ketika mimpi tertawa,

menunggu jawab tanpa kata

berlariku sendiri membelah pagi

tak mau matahari tahu akan mengapa

di sanalah kudengar dunia berbisik,

“Tidurlah.”

 

Lalu mimpi tertawa lagi,

menanyakan arti sebuah janji

bagai pujaan hati kutatap erat

lidahku dipenggal takut melekat

terus kudengar orang berseru,

“Cukuplah.”

 

Namun mimpi tertawa lantang,

menuntut bentuk, bukan bayang!

benarkah aku berdiam bimbang

seperti mayat yang kaku impikan bintang?

sendiri kudengar aku menjawab,

“Pulanglah.”

 

Sentuhan malam dan pikiran mengamuk

mata kantuk digoda remang

jengah pelupuk ingin terlentang

suasana itu kian merayu

“pejamkan saja dan lihat mimpimu”, katanya

“bukankah kau selalu begitu”, katanya

mungkin benar memang seperti

namun siapa sudi melepas mimpi demi bermimpi?

 

Mimpiku bukanlah pemimpi,

biar waktu menampar raga

dan dunia meremas isi seluruh jiwa

takkan pernah sebanding sakit hati-nya

ditinggal aku yang hilang kemana

ribuan fajar ia merapuh

ribuan senja luruh menyepi

tapi mimpiku setia menolak mati

padahal aku?

aku mati sudah berkali-kali!

 

Ditatapnya aku dengan rindu,

hangat dan lembut

sinarnya putih bergelut biru

tawa mereda, sudut matanya tergenang

garis bibirnya bergerak dan berpisah

menjalin seuntai kalimat dalam nada bisu

yang lama telah kumengerti, tapi selalu kuhindari

“Kapan kamu wujudkan aku?”

katanya

dan kini,

akulah yang membisu.

 

K M.