Lupa

Masih muda, masih lantang, masih tegap

Dia bersuara untuk siapa saja yang dia pun tak kenal

Dia berani mati

Dia tak peduli rambutnya berantakan, bajunya tak lagi licin, keringat mengaliri lekuk tubuhnya, aroma parfumnya berganti bau asap kendaraan, wajahnya tak lagi tampan tertutupi debu

Dia menahan lapar dan haus

Kala itu dia tak peduli apapun

Dia bilang IDEALISME, NASIONALISME

Tapi itu dulu

Lalu dia lupa

Entah lupa atau takut untuk mengingat

Rambutnya tak hitam lagi, jalannya perlahan, badannya membungkuk, membisu yang tak bisu

Tak ada lagi sisa-sisa debu atau bau keringat dan asap

Dia “bersih”

Bukan lagi rakyat tapi sanak saudara, kerabat

Entah dia lupa atau takut mengingat idealisme, nasionalisme

Advertisements

Iman

seketika tanpa suara, kosong dan gelap

hanya hembusan angin yang menerpa lapisan terluar kulit ini

aku kalah, bukan cuma aku, kamu pun kalah

membungkam mulut yang tadinya lantang melontarkan berjuta argumen

mencari alasan-alasan tak masuk akal yang bahkan tak kita yakini

katamu, surga itu hanya milikmu

kataku, aku lah jalan kebenaran

sungguh, ini sia-sia

kita bodoh, kita tak berani

kita tak sanggup terpisah

tapi kita hanya manusia, yang seringnya lebih peduli pada apa kata manusia daripada khusyuk berdoa pada-Nya

karna syahadat kita berbeda

Titik

Jangan datang lagi

Jangan usik lagi

Cukup terhenti di titik lalu, titik kelam yang kau dan aku menikmatinya

Titik yang mulanya titik dan perlahan menjadi lingkaran dimana aku menjadi titik di dalamnya

Titik itu lebih dahsyat dari hantu

Aku sungguh tak sanggup

Ajari aku menghapus titik itu atau setidaknya bawa pergi titik itu

Ada masanya…

Apa namanya bila membuka mata pun aku tak sanggup?

Apa namanya bila satu langkah pun aku gentar?

Apa namanya bila berucap pun lidahku kelu?

Apa namanya bila setiap tarikan nafasku hanya ada gelisah?

Ada masanya raga ini terhempas yang meremukkan

Ada masanya jiwa ini kosong

Ada masanya mati adalah jawaban Continue reading