amplop

banyak kejadian di jalan yang bikin hati lemahmu menangis
hati pupuran er kondisyoner dan matras latex

hidupku terasa begitu berharga
tapi begitu tidak penting

bangku yang sepi dan peyot kucurahkan diriku padamu
berkeringat dingin
berkaus kaki longgar

menanak luka di dalam kopaja
menyelipkan perasaan a4 di dalam amplop

kucium keningmu yang lembab
sampai kita bertemu lagi

yang tidak boleh disebutkan namanya

aku menunggumu datang, luka dan suka yang datang bersisian. sambil menahan tangis dan melihat sepasang mata yang menganga. menelan ketakutan dan membiarkannya merayap perlahan di tenggorokan. retak berbaris di dinding. kalau saja aku bisa membagikan dunia kepadamu dalam kantong plastik hitam kecil.

kalau saja aku bisa memanggilmu sekarang.

amerikiyin beauty yok kita smile ya keleusss

there’s life inside things, ricky fitts berkata dengan alis dan matanya yang cancel each others out sambil melihat kantong plastik menari di udara. gambar di layar meredam gelisah. gambar yang mati. gelisah pada yang hidup. suara televisi menyesakkan siang yang lengket.

hey- ken-apa kamu- ka-lau nonton dang-dut su-kanya bilang- “buka dikit JOS!” (repeat 1000x)

mungkin ada kehidupan juga dalam hantu-hantu siang bolong. andaikan otakmu punya tombol yang bisa dinyalakan dengan remot, akan lebih mudah buat kita semua.

salah tempat

wangi mentega

terbakar di tengah malam

pulang kantor lebih awal

memikirkan apakah aku

pernah menyelamatkan diriku sendiri

atau tidak

 

kakiku menghilang

sesuatu menelannya

overly fed bodies

adalah sampah-sampah

dan sampah artinya

over consumption

dan salah tempat

 

tubuh ini butuh relokasi

aku harus memindahkannya sendiri

kesempurnaan cinta delta fm (the new delta fm)

tidak semua orang
bisa bersama orang yang tepat
(tidak semua orang bisa dapat supir taksi yang tepat)
kau bersenandung lirih
lalu berhenti

“adakah cinta yang tulus kepadaku…”

orang-orang sarungan
dengan kesempurnaan cinta
pada rasulullah dan
habib2
beberapa orang
memang tinggal di dalam tempurung

“adakah cinta yang tak pernah berakhir?”

aku tidak berminat dengan langit
kecuali langit yang
terpantul di matamu

seusai pesta

kita pulang mengurai konde lalu menyapu rambutku yang bergumpal-gumpal. kini suamiku bisa tidur bersebelahan denganku. di pagi hari kita makan sisa makanan katering semalam di ruang tamu tanpa meja. ibu tidak berhenti berkicau tentang pesta dan kawan2nya yang penuh pujian. citra begitu penting untuk menjaga relasi. cincinku berkilau merah muda, ia mengganjal jari-jariku di tempat yang janggal. sebentar lagi aku akan merasa telanjang tanpanya. sebentar lagi ibu akan terlalu sibuk untuk menunggu kami pulang ke rumahnya. sebentar lagi ayah juga punya agenda sendiri bertemu teman-teman lama di citos atau cipete raya. teman-temannya sebelum bertemu ibu. dan di ruang makan tanpa meja makan itu, aku merasa semua kenangan akan digerus waktu dan yang tersisa di kepala hanya kabut abu-abu dan sedikit sensasi aneh yang tidak kita pahami lagi.

kapas

aku menunggu diriku mendidih di atas panci yang berkerak abadi. tadi malam aku mimpi kamu mengelus pipiku seolah-olah aku orang sakit di drama-drama picisan lalu kamu mencium jidatku sambil tersenyum manis sebelum kamu pergi karena urusan lain lebih penting dariku.

selalu ada perasaan itu ketika bersamamu. perasaan lembut seperti kapas di dalam toples penuh kapas. selalu ada yang membuatku sakit ketika aku sakit. selalu ada wajah-wajah malaikat yang mewakilkan kejahatanmu. jarum-jarum mengobati luka. what doesn’t kill you will kill you later.

saiman

maaf ya saya masih ada wudhu aku menatap ponimu yang setengah basah disisir ke samping pecimu pasti bau kalo langsung dipake gitu untung aku belum sempat menyodorkan tanganku buat salaman dengan tanganmu yang sebelumnya menyelipkan selembar seratus ribu dari dompetku (dompetku!) ke balik surat-surat kami yang didapat dengan 4 (empat) kalinya itu ayahku yang malang dan calon suamiku dan calon mertuaku bolak-balik basa-basi dan kasih makan pak RT pak RW pak Lurah pak supir express pak pak siapa lagi sinih yang mau morotin biar kubuka lebar-lebar dompetku yang sisa Rp30.000 (tiga puluh ribu rupiah) dan kartu-kartu yang berutang kita tidak pernah menetapkan jumlah tapi kalau ada rejeki Rp1.000.000 (satu juta rupiah) ya biayanya kampret lah semuanya angka pada puisiku aku sebenarnya capek deh jadi anak perhitungan tapi itu bawaan orok gimana dong aku gak pelit sama bapak-bapak itu apalagi sama kamu tapi aku cuma memastikan hitungannya benar, persis, dan presisi dan apa-apa yang aku kasih ke bapak-bapak itu bikin mereka gak perlu morotin orang lain yang lebih berat ngeluarinnya daripadaku (sok malaikat!) aku takut uang-uang hilang tanpa ada yang merasa penuh dan bahagia (tapi memang selalu begitu kejadiannya).