Pintu

lagi-lagi kau keluarkan pintu
dari ransel biru tuamu
tempat kau simpan waktu
yang belum juga berlalu

lagi-lagi kau tatap pintu
berdiri membatu
seakan menikmati candu
atau kau melihat hantu

lagi-lagi kau masuki pintu
meninggalkan jejak sepatu
dan bayang punggungmu
menjauhi tanganku

lagi-lagi sedaun pintu
membutakanku
apa perlu kusegel pintu itu
atau kubakar sampai abu

karena yang kutahu
setelah pergi melewati pintu
kau tak pernah pulang utuh
dan keping-keping diriku terbunuh

Gelap

yang kulihat hanya gelap

tapi

masih kudengar suaramu

masih kukenali baumu

stop!

jaga jarakmu

jangan terlalu dekat

jangan sampai kamu dengar

hela panjang nafasku

denyutku yang bertalu

getar di suaraku

mundur!

jangan sampai kamu rasakan

sedihku

kecewaku

yang lagi-lagi

didiamkan di depan pintu

yang kamu tutup rapat

di depan hidungku

 

yang kulihat hanya gelap

tapi

masih kurasakan

panas yang mengembun

jadi bulir di pipiku

Salam

Selamat pagi
Hai pencuri
Hari ini
Jangan balik kiri
Karena diri
Tengah menata hati
Ingin memiliki
Tapi tak berani

Selamat siang
Hai bolang
Matamu nyalang
Seperti menantang
Beradu pandang
Berkedip dilarang
Jam berdentang
Sialan, kalah perang

Selamat sore
Sahut-menyahut hore
Langit jambore
Lembayung menoreh
Melirik menoleh
Menatap pun boleh
Khayalan bokeh
Meluruh meleleh

Selamat malam
Pribadi tak terselam
Mulutmu ketam
Sembunyikan gumam
Membuatku demam
Suntuk semalam
Merangkai gurindam
Demi sebuah salam

Sampai Kapan?

selalu
di simpang jalan itu
kamu berhenti dan membeku
menatap ke satu titik
hujan nan rintik
membuatmu tergelitik
tawamu pecah
pipimu basah
oleh bulir-bulir resah

selalu
dua langkah di belakangmu
menikmati siluetmu
dengan payung terkembang
siap membawamu pulang
di mana bumi tenang
berhenti
dan berpalinglah ke mari
ada aku di sini