malam tadi tak ada lagi udara yang tersisa

malam tadi ada kenyataan membumbung di udara

tentang penyakit jantung bawaan yang tak pernah terungkap,
tentang penyakit ginjal menahun yang baru terucap,
tentang obat-obatan yang mahal dan hanya bisa dibeli dengan gaji utuh dari pengabdian berpuluh tahun,
tentang rencana pensiun paksa dan loyalitas tanpa syarat,
tentang rencana kontrak kerja dengan gaji separuh,
tentang semangat, kebanggaan semu, dan distraksi dari hidup penuh beban,

jika berpikir positif setiap detik bisa menyelamatkan manusia dari kematian, aku mungkin sudah pindah agama
bagaimana mungkin seseorang yang punya tanggungan berat bisa tetap bahagia, percaya, dan punya rencana?
bagaimana mungkin kehidupan diambil dari orang yang begitu mempercayainya?

malam tadi tak ada lagi udara yang tersisa

mantengin layar

16 dari 24 jam hari ini kuhabiskan maraton memandangi layar. layar laptop, layar handphone, kembali ke laptop, kembali ke handphone, pindah ke layar TV sejenak (untuk mengintip apakah episode FTV SCTV kali ini menarik), makan, mandi, gegoleran, kembali ke layar laptop bergantian dengan layar handphone sambil mengintip layar TV, lalu kembali ke laptop sambil gegoleran mencari torrent episode terkini reality show(s) kesukaan supaya bisa disedot gan saat kutinggal tidur nanti.

kemarin begini, besok begini, lusa ya mbuh.

bisa stroke lama-lama.

habis… apalagi yang bisa dilakukan seorang pengangguran #kelasmenengahngehek dengan nominal di rekening yang tipis tiris tengkurep nyaris menembus titik keseimbangan angka nol. cuma bisa taktis dan strategis. setengah kubelikan pulsa internet yang puji tuhan alhamdulillah lagi gak ngocol bulan ini supaya aku tetap punya ilusi dunia ini baik-baik saja, semuanya baik-baik saja. setengah lagi kupirit-pirit yang nanti akan kupakai seiprit-seiprit untuk menunaikan ibadah pergaulan anak jakarta. oh, beratnya #bebanpencitraan!

bah! aku tak tahu siapa yang lebih ngehek. aku. atau kota busuk ini.

sebentar. aku makan dulu indomie telor rebusku. saat ini cukup rasanya jika hanya perutku yang bahagia.