pelangi

apa yang terjadi ketika waktu memusuhimu?
mungkin sudah saatnya belajar menerima dan merelakan.

menjadi dewasa menyakitkan.
mengapa kita tak bisa menggantung selamanya di atas pelangi yang hanya muncul sementara?

kita dulu leprechaun.
tanpa perasaan.
sibuk mengumpulkan koin-koin cokelat emas dalam enam mangkuk berisi bunga-bunga bakung putih.
kanak-kanak abadi.

di pelangi tak ada kisah tentang cinta terlarang,
tentang mimpi buruk yang terlalu nyata,
tentang sepuluh pedang menusuk di punggung,
tentang menara yang terbelah,
dan kematian.

kamu adalah hujan sehari setelah panas bertahun-tahun.
mencari orang sepertimu melelahkan.
aku cuma ingin duduk-duduk di sini saja bersamamu seperti biasa.
dengan perasaan yang juga biasa-biasa saja.

Advertisements

salah alamat

di tengah-tengah percakapan sushi tanpa sayur dan eskrim matcha kita dulu sambil belepotan saus mayonaise aku pernah bilang,

“cinta aja ternyata nggak cukup, lagi!”

dan kamu memiringkan kepala ke kanan tanpa banyak bicara. seperti biasa.
pertanda lagi serius menyimak dan mencerna perkataan ngasal yang keluar dari mulut bocah kelaparan.

satu setengah tahun kemudian aku baru sadar, cinta saja sebenarnya sudah cukup kalau nggak salah alamat.

cukup membuatku bahagia tanpa perlu minta ini-itu.
cukup ngobrol sepanjang hari tanpa ingin apa dan siapa lagi.

karena cinta adalah tanggal kadaluwarsa di kaleng ham ma-ling yang lekas jadi pudar,
aku minta maaf pada diriku sendiri karena semua sudah terlambat.

sembunyi

aku selalu memesan macchiato meski ingin cappuccino
kutambah dengan gula merah sekantong
supaya bisa tetap terjaga bersamamu
nonton chungking express tanpa subtitle dan hanya membahas
cinta yang kadaluwarsa
gerakan dan warna yang memudar dalam kesunyian
di lantai lima sudut jakarta yang diam-diam kuhias untukmu

meski mungkin aku tak akan pernah punya taman untuk berkebun organik
atau memanggang coffee cupcakes with brown sugar frosting
karena apartemen tak akan sanggup menampung
taman bunga
rumah pohon
oven besar
mesin cuci dua tabung
dan anjing golden retriever-ku yang berbadan raksasa

jauh sebelum aku harus menenteng guci isi abu lagi dan menertawakan kematian
kesesakan yang ada sudah terlalu nyata