pancaroba

jakarta pada musim pancaroba
adalah neraka saat hujan mulai turun bertepatan dengan pantat yang menempel di jok taksi tarif istimewa yang nggak juga lebih empuk dari taksi tarif semenjana, kursi kerjaku di kantor, atau sofa sewaan di rusunami
tapi apa artinya argometer, jok keras, dan kemacetan yang tak akan pernah terurai kalau masih bisa sampai tepat waktu pada nyawa yang belum melayang
meskipun aku nggak tahu juga mau ngapain kalau kesadaran sudah perlahan menghilang
apa artinya kesesakan jiwa kalau jantung belum benar-benar bengkak dan paru-paru banjir

ibuku suruh aku berdoa minta tolong pada tuhan, aku malah buat puisi

kempot

suatu pagi nanti aku akan mati tenggelam di tengah bunyi sirene voorijder
atau keracunan asap di tengah pertunjukkan akrobatik depan pintu metromini

tanpa asuransi jiwa

terjebak di dalam turangga-rangga yang dibuat oleh negara ini

sebelum aku sempat mengoleskan pelembap dan tabir surya di muka dan sekujur badanku
sebelum aku sempat mengiris-iris daging putih impor gendut dari korea selatan
dan menempelkannya satu demi satu di panci berisi adonan pancake-ku yang setengah matang
lalu memakannya bersamamu di meja kita yang sudah terlalu sesak
sebelum aku sempat
berbuat apapun

kota ini menyerap waktu, uang, dan energiku
aku dan dompetku kempot sebelum waktunya