Baik Terlalu Mainstream

Mana enak jadi orang baik
Disikut sana didorong sini di halte busway
Terdorong jauh ke belakang sampe sesak napas
Dijadiin keset dijadiin tameng

Ngomong positif katanya macam Mario Teguh
Harus nyinyir nyindir-nyindir sedikit getir
Biar keliatan ada “depth-nya” gitu deh
Tak enak lah jadi orang baik masa kini
Tak punya intrik-intrik menarik yang bisa dikilik-kilik

Tak usah baik-baiklah jadi orang
Orang sudah jarang ingat yang baik
Kecuali kalau dia sudah mati

kopi seduhan dan teman gunjingan

satu – dua – tiga – empat

lima – enam – tujuh – delapan
sembilan – sepuluh – sebelas – dua belas
tiga belas

tiga belas burung gereja hinggap sore itu
di kabel listrik
atau kabel telepon?
hanya tuhan dan supir bajaj yang tahu

 

kopi seduhan dan teman gunjingan
adalah sahabat setia.
selalu
untuk selamanya

sore itu, bibir merahmu merekah seraya berkata,
“gudang ini akan dipenuhi oleh matahari-matahari yang tak tahu arahnya sendiri”

aku langsung berdoa,
“tuhan kirimkanlah aku, kekasih yang baik hati”
ah. mana ada kekasih baik hati di musim gaoul gini keleuus.

aku kembali berdoa,
“tuhan kirimkanlah aku, mobil super kencang, jadi kita bisa terbang”

“dan selembar tiket,
ke mana, terserah aku”

“duaaaarrr!”
meja sebelah meledak, menekankan klimaks cerita

“duaaarrrrrrr!”
ledakan di kejauhan membahana

 

satu – dua – tiga – empat
lima – enam – tujuh – delapan
sembilan – sepuluh

sepuluh burung gereja hinggap sore itu

dua telah terbang pergi tinggi,
naik mobil super kencang

seekor burung gereja terkapar mati
bunuh diri
mendengar gunjingan sore ini

1750 11152013

http://gedongproject.wordpress.com/

pada akhirnya

pada akhirnya
aku akan selalu kembali padamu
karena kamu adalah candu
yang akan membuatku selalu ketagihan
tanpa melayang-layang di udara
dan berpijak tanpa merasa terkekang

pada akhirnya
aku akan selalu kembali padamu
karena sekusut apapun benang yang sudah sembarang kusimpulkan
kamu akan selalu menguntainya kembali dengan cara paling sederhana yang pernah kulihat

pada akhirnya
aku akan selalu kembali padamu
karena menyadarkan betapa lelahnya diriku berputar-putar
di dalam labirin yang kubangun sendiri
dan bahwa aku tak butuh semua instrumen penunjang adrenalin itu

bahwa ternyata
aku sudah mencintaimu dengan sangat sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu*

*) dua bait terakhir diambil dari puisi “Aku Ingin” (Sapardi Djoko Damono)

puisi ini ditulis pada tanggal 12 Juli 2009 dengan kebahagiaan campur takut
dan ketika dibaca kembali 4 tahun kemudian kebahagiaan dan rasa takut yang timbul menjadi empat kali lipatnya

mitologi

aku lapin kamu gajah dia hukla mereka sandinista

kita mereka reka mitologi untuk meniru kehangatan matahari

di dalam sebuah kamar pernah tertinggal:

sepotong sisir, daster yang robek kantungnya, ecstasy

 

aku gajah kamu lapin dia raksasa kita hukla!

id ego superego alter ego berlompatan di wajan petri

what are you, kehangatan yang bergerak di dada, simulakra?

jika yang bisa kurecall dalam memori hanya tumit tumitmu dalam simulasi

 

ini soklat dalam brankas

aku telah lupa nomor kombinasinya

tanyakan kepada tour guide istana yang berkepang kuda

 

kulingkarkan lenganku mengelilingi pilar pendopo

kuhaturkan sembah kepada udara yang berbau roti

kuulurkan sebuah puisi berisi perasaan dan misteri

 

 

mal! dor! rawr!

apakah lautreamont merasa takut

waktu angsa yang ia telan, berubah jadi naga berkusta di perutnya yang tambun?

 

apakah rimbaud merasa takut

waktu sepatu larsnya pecah berkeping-keping menjadi batu-batu candi di dataran magelang?

 

apakah pram merasa takut

waktu membabat semak-semak buru yang menyembunyikan ular dan kekuasaan?

 

apakah wiji thukul merasa takut

waktu ia berusaha diam seribu bahasa di sebuah kamar kosan di karawaci sementara kepalanya penuh dengan puisi yang lantang?

 

apakah chairil merasa takut

waktu meminjam sepeda batavus untuk membonceng tuti yang berdada semoxxx ke kedai es krim artic?

 

apakah toeti heraty merasa takut

waktu check-in bersama new york cab driver yang membawanya ke sebuah motel yang kamar mandinya tak berpintu?

 

apakah puisi takut

waktu aku meminjam kisah-kisah orang yang tak kukenal untuk mengelabui diriku sendiri?