pulang

batubatu bulat menyala dalam gelap
kupunguti satu per satu dalam perjalanan pulang
kusimpan rapi di dalam saputangan

b
e

r h

a

m

b

u r

a
n

saat akhirnya menemukanmu dan melihat katakata

»
a ku s ud a h l e l a h
a k u h a ny a in g in me n c a ri y an g s e p er t i

m

u

«

terbang di udara.

Advertisements

with you and the ice cream

waktu pernah berhenti di sana bersamamu dan percakapan-percakapan es krim
aku selalu ingin memasukkan udara dalam kotak dan menyimpannya di bawah ranjang
selamanya
namun mangkuknya hanya delapan dan waktu tiba-tiba berlari

aku mendekap hati-hati bulu-bulu babi di dada
tapi mereka terguncang dan pecah berserakan dalam perjalanan
serpihannya menetap di sana

aku ingin menggantung selamanya
pada lengan kemejamu dalam kesunyian
pelukan-pelukan canggung
tangan kananku yang mengusap punggungmu
tembok menjulang

suatu saat nanti aku akan mengenang
matamu yang tersenyum lembut di balik kue yang meleleh
mentega meadow lea yang mendidih pada panci teflon
menetes
di atas punggung kaki
pesta ulang tahun yang abadi di dalam lensa cembung
warna-warni confetti
dirimu dengan sweater kebesaran ayah
memandangiku tertidur dari sudut ruangan
meminta ijin untuk menampung orang lain dalam perahu
enam bilah pedang menancap di dasarnya

aku akhirnya pulang
tapi di rumah tak ada siapa-siapa

perempuan dan laki-laki laut

perempuan itu adalah laut
ia pernah sekali meninggalkan palungnya dan mencoba menggantung di garis cakrawala
supaya bisa terus menggapai dunia yang luas, pikirnya

namun udara yang ada di sekitar langit biru selalu membuatnya tercekik
lagipula untuk apa mengawang-awang di tempat yang ia tahu bukan miliknya,
di tempat di mana ia tak akan pernah menjadi dirinya sendiri?

 

laki-laki itu adalah laut
airnya tenang, meskipun dalam dan tak pernah dapat diduga
ia suka menyendiri dalam palungnya yang dalam, dingin, dan kelam
persis perempuan laut
hanya sesekali ia keluar dan berenang ke permukaan, bermain bersama paus, lumba-lumba, dan penghuni laut lainnya

meski terpisah jarak yang begitu jauh, perempuan laut tak pernah sehari pun melupakan laki-laki laut yang begitu disayanginya
terutama ketika kesesakan yang ia rasakan tak mau pergi dalam tidurnya setiap malam,
saat-saat di mana perempuan laut begitu merindukan rumahnya

meski ia berkali-kali mengabaikan panggilan dari palungnya yang dalam, dingin, dan kelam
laki-laki laut akan selalu menunggunya
dan perempuan laut akan selalu menemukan jalannya kembali ke sana

 

seperti saat ini…

tak pernah asing meski tahun-tahun sudah berganti

cinderamata perjalanan mereka yang dulu perempuan laut pernah sematkan di karang warna-warni
dan sebagian ia kubur dalam-dalam…

 

masih di sana…

 

entah sampai kapan.